Klinik Nikah Indonesia Beri Edukasi Pernikahan Islami

Klinik Nikah Indonesia Beri Edukasi Pernikahan Islami

Keluarga Besar Klinik Nikah Indonesia Saat Melakukan Gathnas di Batu 2016

Wartamalang.com I Menikah adalah kewajiban bagi umat manusia. Menikah ini tentu saja dalam islam bukan hanya sekedar bagaimana laki-laki dan perempuan dapat memenuhi kebutuhannya secara biologis. Jauh dari itu, menikah adalah proses ibadah karena di dalamnya terdapat proses membina rumah tangga, mendidik keluarga atau anak-anak, dan juga menjaga keharmonisannya.

Hal itulah yang membuat Klinik Nikah (Klik) Indonesia merasa bertanggung jawab untuk memberikan edukasi tentang sebuah pernikahan yang islami. “menikah adalah salah satu bentuk ibadah jika dijalankan dengan sungguh-sungguh dan keikhlasan. Menikah dapat menjadi lumbung pahala jika dijalankan sesuai aturan islam,” ujar Yosi Al Muzanni Pendiri Klinik Nikah Indonesia

Yosi adalah seorang pendiri Klinik Nikah. Kini lembaga yang dia bangun tersebut sudah berusia 5 tahun. Dengan memiliki sembilan cabang yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Mulai dari Surabaya, Jember, Ponorogo, Semarang, Jogjakarta, Kediri, Jakarta, hingga Medan. Dan ke depannya kemungkinan klinik itu akan kembali lagi bertambah. Mengingat ada orang yang telah menghubunginya untuk mendirikan Klinik Nikah di daerahnya

Yosi menjelaskan, didirikannya Klinik Nikah Indonesia karena pernikahan bukanlah sesuatu hal yang dibuat main-main. Ini terkait dengan separuh agama. ”Orang untuk menjadi insinyur saja perlu belajar selama empat tahun, apalagi untuk nikah,” paparnya

Dia melanjutkan, edukasi untuk pernikahan sendiri memang didapatkan pasangan yang hendak menikah. Hanya saja singkat selama satu hari di KUA. ”Itu saya rasa sangat tidak cukup,” kata bapak tiga anak tersebut.

Nah, dengan adanya edukasi ini, dia berharap pernikahan bisa semakin langgeng. Tidak gampang memutuskan untuk bercerai. ”Kan angka perceraian kini juga membuat miris,” paparnya.

Dalam Klinik Nikah, kelasnya dibuka tiga bulan sekali. Dalam satu angkatan bisa mencapai 40 peserta. Mereka akan mengikuti pertemuan sebanyak 12 kali. ”Kalau di Malang sejauh ini sudah ada delapan angkatan,” ungkap Yosi.

Mereka yang mendaftar dan mengikuti kelas ini nanti akan mendapatkan beberapa materi terkait pernikahan. Mulai dari psikologi kekeluargaan, kesehatan pranikah, tahapan pemilihan jodoh, ta’aruf, khitbah (peminangan), mahar, administrasi KUA, fiqh walimah, manajemen keuangan keluarga, fiqh talak, rujuk, serta parenting pemantapan. (Ryan)

Comments

comments