Ahad, 29 Januari 2012 | 14:57 WIB

Kelabu di Manchester United


Warta Malang – Seperti biasanya, setiap hari Minggu, saya sering mendapatkan SMS ucapan selamat hari Minggu ataukah Happy Sunday yang berisi kata-kata bijak maupun selipan ayat-ayat Kitab Suci. Namun, hari Minggu ini (29/1), rupanya semarak terhadap kekalahan Manchester United dari Liverpol 2-1 dalam ajang Piala FA 2012 di Stadion Anfield, Sabtu ( 28/1), turut mempengaruhi kata-kata dalam SMS yang saya terima.

Sejenak saya tersenyum membaca beberapa SMS itu. Lalu sebuah pertanyaan nakal di benak saya, memangnya Sir Alex Ferguson itu malaikat yang dapat merubah pemain Manchester United menjadi hebat dalam sekejap ? Kemenangan dan kekalahan dalam permainan bola itu adalah wajar. Meski, sepak bola yang indah dapat membawa seluruh perasaan suporternya untuk larut dalam kegembiaraan atau pun kesedihan yang terdalam.

Dan, saya termasuk salah satunya yang paling sedih atas kemenengan Liverpol (2-1) dari Manchester United. Kekalahan Manchester United adalah batas akhir, pada jejak kaki terakhir saya boleh menikmati Piala FA 2011/2012. The Red Devil semakin memperpanjang rekor kegagalan di Piala FA menjadi 8 tahun dari tahun 2004 lalu. Pembaringan pun menanti dengan mata tertutup. Tidak ada lagi tempat, ruang, dan waktu bagi diriku menatap layar kaca dan bersorak. Manchester United, Sir Alex Ferguson, dan Patrice Evra dalam hati penulis kini tertidur pula dan tiada jawara yang pantas dielukan.

Patrice Evra - by: AP

Sir Alex Ferguson adalah pelatih hebat dan Patrice Evra adalah titisannya. Fergie lebih hebat dari Kenny Daglish untuk mengatur strategi permainan di lapangan hijau. Dan, Evra lebih matang dari Steve Gerrad untuk memimpin timnya di lapangan. Kekalahan permainan menyerang yang menawan.

Ironisnya, pemain berkewarganegaraan Prancis itu tertekan dengan cemooh ribuan supporter Liverpol di sepanjang pertandingan itu. Kakinya seperti dikutuk dan keajaiban yang selalu dibicarakan orang itu pudar pasif. Dan, gol kemenangan Liverpol oleh Dirk Kyut tercipta dari posisi Evra,yang berada di sisi kiri pertahanan Manchester United.

Bagi penulis, Red Devil lebih beruntung memiliki Chris Smalling dan Rafael Da silva ketimbang Patrice Evra dalam pertandingan tersebut. Posisi Evra merancukan Rafael dan Samlling, dua pekerja yang ngotot demi tim. Evra adalah kehancuran, karena meninggalkan lubang di sisi kiri Manchester United yang dapat di manfaatkan dengan baik oleh striker Liverpol Dirk Kyut.

Evra nampak bingung dan selalu ragu untuk naik atau turun dalam pertandingan sekeras itu.Dia Nampak tidak dapat menguasai dirinya sebagai pemain bintang di tengah sorakan ribuan penonton di Anfield pada dirinya. Dia punah oleh dirinya sendiri.

Sekali lagi, Evra menjadi bintang karena Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand yang menjadi pilar kembar pertahanan Manchenster United. Dua sosok itulah yang mumpuni untuk menutup lubang di sisi pertahanan Manchester United. Ketika dua orang itu terceraikan, Evra kesepian, merana, dan sebatang kara. Fergie, dalam hal ini, tidak berhasil menghadirkan pelayan yang baik buat pemain bintangnya itu.

Fergie pun kecut dengan pedang yang tertancap di jantung hatinya. Sang pelatih itu kini ‘mengandung’ pembelajaran berharga, dan boleh berharap dengan berucap “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!”. Sebab, tiada bisa kemenangan dibeli dengan kedewaan, tiada pula bola bisa dipecundangi dengan kebintangan.

Bola tetap mengalir sesuai yang dia kehendaki, tanpa tuan berdaging manusia. Lantas, manusia hanya bisa menerima takdirnya, menerima garis sejarah yang ditulis Sang Bola. Dia hanya boleh berkata, terjadilah padaku menurut perkataanmu.

Dirk Kyut merayakan gol di menit krusial - by: Reuters

Liverpol memang menang. Itu catatan yang telah digoreskan bola. Namun, bola akan terus menggelinding. Sang manusia boleh saja bergerak bebas ke segala arah, di segala lini, berupaya menciptakan gol dan kemenangan. Ryan Giggs, Paul Scholes, Michael Carrick, dan Danny Welbeck boleh bergerak menyerang. Namun, bola akan tetap pada garis lurusnya, pada rencananya untuk berlayar dan berhenti, menulis dan menciptakan sejarah.

Kalau pun Liverpol terpilih, itu adalah kehendaknya. Sebab, sejak mula rencananya telah konsisten, memilih sang pemenang sesuai dengan ukurannya sendiri. Dan, menciptakan batas akhir di sebuah hari yang kelabu bagi Manchester United.

Di tulis oleh : Akhmad Jamaludin – Pemimpin Redaksi WartaMalang.com

Tinggalkan Komentar